sadar tidak sadar, kita sudah sampai disini,
tempat yang lebih tinggi dari sebelumnya,
bersyukur tidak bersyukur, urusan urusan kita telah dibayar oleh Ia yang diatas sana, dilunasi bahkan sebelum kita meminta, agar kita segera merdeka dari jerat jerat dunia
mengeluh tidak mengeluh, tanggung jawab harus diselesaikan, sebelum kadaluarsa dan berjamur diminta gantinya di hari penimbangan
hidup itu hanya sementara
daripada harta dan kenikmatan dunia
lebih banyak manusia membawa kesombongan dan keserakahan bersamanya menuju alam sana
semoga kita masih sempat mensujudkan hati kepada-Nya
Kamis, 10 Mei 2012
Selasa, 03 April 2012
Kau Menginspirasi!
Hai kau yang aku tak pernah sempat berkenalan denganmu!
Apa kabar?
Terakhir bertemu kau terlihat sedang buru buru.
Sedang menyelesaikan apakah?
Atau kau baru saja memulai sesuatu yang tak biasa untuk
seorang spesial di hari itu?
Haha, semoga apapun yang kau lakukan senantiasa mendapat
berkah dari-Nya.
Sadarkah kau, setiap langkah beserta jejakmu itu kerapkali menggoreskan
decak kagum bagi mereka yang disekitarmu.
Tapi tenang saja, aku tidak berencana jatuh cinta denganmu,
ataupun berencana menjatuhkanmu.
Aku hanya ingin merayakan dan turut berbangga dengan semua
bakat dan usaha yang ada padamu.
Sudah delapan musim 23 malam sejak pertemuan terakhir kita,
yang entah kau menyadari atau tidak tentang keberadaanku waktu itu.
Kini aku tidak lagi tau kau ada dimana.
Kini aku tidak lagi tau kau ada dimana.
Aku hanya mendengar gema gema nyaring dari tindak tandukmu
di belahan dunia mana lagi entah dimana
Keajaiban apalagi yang kau perbuat?
Makin saktikah atau makin hebat?
Kau menginspirasi!
dan sampai jumpa lagi di puncak kejayaan!
---------------------------
apresiasi bagi mereka yang tak berhenti menginspirasi
Yogyakarta, 3 April 2012
---------------------------
apresiasi bagi mereka yang tak berhenti menginspirasi
Yogyakarta, 3 April 2012
Minggu, 05 Februari 2012
Episode 1a: DEPARTURE
Roda
sdh berputar.
Tuas2
pinggir jalan sdh ditutup, mempersilakan kami lewat.
Kami
mulai akrab dengan penumpang sekitar.
Mohon
doanya, Teman.
Berurutan tombol di telepon genggam
selustrumnya kena pencet.
Send
to group, KKN.
***
10 menit sebelumnya.
“Mas,
ini nomer 15 C dan D kan?”
“Iya,” jawab Aryo agak terkaget
karena disapa dari belakang oleh sepasang mbak dan mas.
“Ini tempat duduk saya Mas, bisa
tolong dicek dulu tiketnya?”
“Sebentar, sebentar. Saya cek dulu. Oh iya. He he.
Maaf ya Mbak,” kata Ical dan Aryo bergantian dengan wajah polos, sembari
mengemasi kembali ransel-ransel yang tadinya sudah tertata rapi di atas tempat
duduk mereka.
Mereka berdua sebenarnya tidak
salah nomer tempat duduk, tapi lebih parah: salah gerbong! Untung tidak salah
kereta, apalagi salah stasiun! Bayangkan, tiket yang dibeli adalah untuk gerbong
2, mereka malah sampai di gerbong 4. Loncat 1 gerbong kan?! Hil yang mustahal,
dan hanya bisa dilakukan olah Spiderman. Mereka segera bergegas cabut, diiringi
candaan terkahir dari Ical, “Ini mau mengadu nasib Mbak, mau rekaman di Jakarta.”
Tentu diucapkan sambil senyam-senyum malu. Dalam perjalanan berganti gerbong,
sepucuk doa terselip segera, Semoga
gantinya labih baik, amin.
Setibanya
di gerbong 2, Ical (nomer duduk 16 C) mendarat di tempat duduk 6 orang saling hadap,
yang saat itu sudah berisi tiga generasi dalam satu keluarga, yakni seorang
simbah putri, seorang anak laki-lakinya simbah putri, dan seorang anak dari
anak laki-lakinya simbah putri. Bingung? Jongkok.
Awalnya ia berbincang hangat dengan
ketiganya. Saling tukar sapa, bertanya tujuan, asal tempat tinggal dan yang
lainnya. Dari perbincangan itu, ia tahu keluarga tersebut bersasal dari Bantul
dan ingin berkunjung ke sanak kerabatnya di Tangerang. Ical yang duduk tepat di
depan anak laki-lakinya simbah putri awalnya sumringah saja ngobrol
kesana-kesini, tertawa lepas berempat. Namun, semuanya berubah ketika negara
api menyerang (lho?). Ketika suasana hangat mulai terbangun kokoh, senang
hatinya mendadak surut. Nyalinya menciut. Khawatirnya terlecut. Hey, kau tahu
apa yang dilihatnya?
TATTO! Ya. Anaknya simbah bertatto!
Dua lagi! Satu bergambar kupu-kupu di
lengan kanan, sisanya berbentuk tribal api mbulat-mbulat
di kaki kanannya. Meski tak tahu apa maksud sebenarnya mengapa kupu-kupu dilengan dan api di kaki
(mungkin anaknya simbah putri itu punya tendangan api dan bisa terbang karena
lengannya berubah jadi sayap kupu-kupu), Ical pun sadar, ia harus lebih
mengontrol kata dan candanya. Alih-alih sok akrab, bisa kena gencet dan
tendangan api gara-gara salah ucap.
Di ruas kursi lain, ternyata tempat
duduk Aryo juga sudah terisi seorang pemuda, seorang kisanak. Kesan pertaman
kayak orang ngedrug, sakau, ngudut, ngepul-ngepul asapnya. Aryo pun curiga, jangan-jangan
pemuda itu merebut kursinya, tapi ternyata tidak, di sebelahnya. Yang terpilih
menjadi teman seperjalanannya.
Tiba-tiba, pemuda itu menyapa
duluan. Menanyakan tujuan dan asal pada Aryo. Begitu tahu bahwa Aryo berasal
dari jogja asli, pemuda itu pun mencoba melancarkan praktek conversations boso
jowo yang telah ia pelajari secara otodidak selama 5 bulan Ia menduduki
Ngayogyakarta Hadiningrat. Iya, 5 bulan, rupa rupanya Pria yang biasa disapa Eliod oleh teman temannya dan juga punya panggilan sayang Hendi dari Papi
Maminya ini merupakan mahasiswa semester
1 di sebuah Universitas yang cukup terkenal di Yogyakarta. Ia mengambil jurusan Sosiologi.
Teman seperbangkuan Aryo ini,
dengan bahasa jawa ngoko dengan aksen Cirebon yang kental sedikit demi sedikit
mencurahkan apa yang ada di benaknya. Ia sempat bercerita mengapa ia memilih
kuliah di jogja, untuk pendewasaan katanya. Ada sebuah bagian dari dirinya yang
Ia ceritakan pada Aryo, yang membuat Aryo sedikit menyesal. Rupanya dibalik
penampilannya yang sempat ditangkap secara negatif oleh aryo, rupanya Eliod merupakan pria yang
cukup bertanggung jawab. Selama 5 bulan berkuliah di jogja, ia melakoni
kehidupan perkuliahannya sambil bekerja
di sebuah kafe, demi mengurangi beban orang tuanya untuk masalah pembiayaan dan
kebutuhan sehari harinya. Luar biasa! Kita? Dan satu lagi, cita citanya? Guru.
***
45 menit sebelumnya
Arda
sudah menunggu di tepian rel, di stasiun Lempuyang mania. Ia pilih jadwal
kepulangannya ke Solo tepat sama dengan jadwal kepergian Aryo dan Ical. Agar
bisa saling berpamitan, mungkin itulah sebabnya. Sementara Ical sudah datang
dahulu, muncul Eria dan Rina dari balik kerumunan orang. Mereka ingin mengantar
kepergian tiga jejaka tadi. Mereka berdua terus saja tersenyum, tertawa, dan
membekali doa-doa yang agak aneh seperti: Hati-hati
di sana ya, biar tidak diterkam harimau!.
Kereta sudah
siap, maka berangkatlah Aryo dan Ical membawa misi yang insya Allah berniat
baik. Membuka lahan pengabdian baru di tanah yang belum pernah mereka injak
sebelumnya, di tanah timah.
***
Kembali ke 10 menit
sebelumnya. Alurnya bikin pusing.
Setelah
terkirim, berturut-turut sms tadi berbalas. Macam-macam kata-katanya, tata
kalimatnya, tapi yang jelas ditangkap Ical adalah iringan doa dan harapan. Terimakasih
teman. :)
Berkait, InsyaAllah.
Akbar Suryo Sadarpo feat Rizal A. Prakosa
Dibolak-balik boleh
Di
tanah timah, Bangka
cerita ini juga bisa dibaca di:
Kamis, 02 Februari 2012
Semua Akan Baik Baik Saja
A: "Assalamualaikum, selamat pagi pak."
B: " wa'alaikumussalam. Iya"
A: "Saya A**** pak, yang beberapa waktu sempat telpon dan bilang akan *** disana."
B: "Oh, iya mas. ada yang bisa dibantu?"
A: "Cuma mau ngabari saja pak, rencananya minggu depan saya dan teman saya akan berangkat survey, salah satu tujuannya ingin bertemu bapak."
B: "Owh iya iya"
A: "Kira kira kami bisa menemui bapak hari apa ya?"
B: "Yang penting jangan Sabtu Minggu ya, saya ada tamu. Siapa itu yang lagi ngetop?"
A: "Siapa pak?"
B: "Itu lho, siapa? Ayu T*ng T*ng."
A: "Hha. Owh iya pak."
B: “Iya, saya sabtu minggu kemarin sudah dikontak suru menemani Ayu T*ng T*ng.”
A: “Ya ya ya, berarti Hari Senin saya ketempat bapak ya?”
B: “Iya, kalau tidak hari Senin ya hari Jumat, atau hari Kamis saya bisa ditemui.”
A: “Oke pak, brarti nanti sambil nunggu hari senin saya keliling keliling survey lihat keadaan ndak papa ya pak?”
B: “ Iya, Tapi hati hati, sudah 3 orang diterkam harimau.”
A: “Ha?! Beneran itu pak?”
B: “Iya beneran.”
A: “Iya Pak, Ya sudah, terimakasih Pak. Assalamualaikum.”
B: “ Wa’alaikumsalam.”
Ba Dum Tss!
Pembicaraan diatas merupakan pembicaraan asli, dengan sensor di beberapa bagian yang tidak perlu dicantumkan bagi kemaslahatan umat,
dengan gaya penulisan seingatnya saja, walaupun begitu, bagian bagian inti dari dialog tersebut sudah dicantumkan.
"Cowabunga bagi Turtles, Eureka bagi Archimedes, dibantu yak bagi Pak Tarno.
dan Subhanallah bagi Engkau"
-Akbar Suryo Sadarpo-
Senin, 23 Januari 2012
Belajar dari Wayang #2 - Arjuna, Karna, dan Ehm
"Ada dua hal yang cukup ampuh dari Raden Arjuna, yang pertama adalah kemampuannya memanah, dan yang kedua adalah ketampanannya.
Dalam hal memanah, di dunia wayang, kita mengenal Adipati Karna sebagai orang yang bisa mengimbangi beliau.
Dan untuk masalah ketampanan.., ehm
rasa rasanya tidak perlu kita bahas lagi, karena semua tahu siapa orangnya."
Dalam hal memanah, di dunia wayang, kita mengenal Adipati Karna sebagai orang yang bisa mengimbangi beliau.
Dan untuk masalah ketampanan.., ehm
rasa rasanya tidak perlu kita bahas lagi, karena semua tahu siapa orangnya."
Belajar dari Wayang #1 - Gatotkaca Kalabendana
"Gatotkaca pun menyesal seumur hidup setelah tanpa sadar membunuh paman yang sangat menyayanginya, Kalabendana.
Amarah tidak pernah memenangkan apapun."
Posting dengan judul belajar dari wayang adalah ide yang saya pahami dan dapatkan setelah membaca buku "The Darkness of Gatotkaca" yang ditulis oleh Pitoyo Amrih. Apa yang saya tuliskan diatas pernah saya jadikan status di profile facebook saya.
Amarah tidak pernah memenangkan apapun."
Posting dengan judul belajar dari wayang adalah ide yang saya pahami dan dapatkan setelah membaca buku "The Darkness of Gatotkaca" yang ditulis oleh Pitoyo Amrih. Apa yang saya tuliskan diatas pernah saya jadikan status di profile facebook saya.
Langganan:
Postingan (Atom)