Roda
sdh berputar.
Tuas2
pinggir jalan sdh ditutup, mempersilakan kami lewat.
Kami
mulai akrab dengan penumpang sekitar.
Mohon
doanya, Teman.
Berurutan tombol di telepon genggam
selustrumnya kena pencet.
Send
to group, KKN.
***
10 menit sebelumnya.
“Mas,
ini nomer 15 C dan D kan?”
“Iya,” jawab Aryo agak terkaget
karena disapa dari belakang oleh sepasang mbak dan mas.
“Ini tempat duduk saya Mas, bisa
tolong dicek dulu tiketnya?”
“Sebentar, sebentar. Saya cek dulu. Oh iya. He he.
Maaf ya Mbak,” kata Ical dan Aryo bergantian dengan wajah polos, sembari
mengemasi kembali ransel-ransel yang tadinya sudah tertata rapi di atas tempat
duduk mereka.
Mereka berdua sebenarnya tidak
salah nomer tempat duduk, tapi lebih parah: salah gerbong! Untung tidak salah
kereta, apalagi salah stasiun! Bayangkan, tiket yang dibeli adalah untuk gerbong
2, mereka malah sampai di gerbong 4. Loncat 1 gerbong kan?! Hil yang mustahal,
dan hanya bisa dilakukan olah Spiderman. Mereka segera bergegas cabut, diiringi
candaan terkahir dari Ical, “Ini mau mengadu nasib Mbak, mau rekaman di Jakarta.”
Tentu diucapkan sambil senyam-senyum malu. Dalam perjalanan berganti gerbong,
sepucuk doa terselip segera, Semoga
gantinya labih baik, amin.
Setibanya
di gerbong 2, Ical (nomer duduk 16 C) mendarat di tempat duduk 6 orang saling hadap,
yang saat itu sudah berisi tiga generasi dalam satu keluarga, yakni seorang
simbah putri, seorang anak laki-lakinya simbah putri, dan seorang anak dari
anak laki-lakinya simbah putri. Bingung? Jongkok.
Awalnya ia berbincang hangat dengan
ketiganya. Saling tukar sapa, bertanya tujuan, asal tempat tinggal dan yang
lainnya. Dari perbincangan itu, ia tahu keluarga tersebut bersasal dari Bantul
dan ingin berkunjung ke sanak kerabatnya di Tangerang. Ical yang duduk tepat di
depan anak laki-lakinya simbah putri awalnya sumringah saja ngobrol
kesana-kesini, tertawa lepas berempat. Namun, semuanya berubah ketika negara
api menyerang (lho?). Ketika suasana hangat mulai terbangun kokoh, senang
hatinya mendadak surut. Nyalinya menciut. Khawatirnya terlecut. Hey, kau tahu
apa yang dilihatnya?
TATTO! Ya. Anaknya simbah bertatto!
Dua lagi! Satu bergambar kupu-kupu di
lengan kanan, sisanya berbentuk tribal api mbulat-mbulat
di kaki kanannya. Meski tak tahu apa maksud sebenarnya mengapa kupu-kupu dilengan dan api di kaki
(mungkin anaknya simbah putri itu punya tendangan api dan bisa terbang karena
lengannya berubah jadi sayap kupu-kupu), Ical pun sadar, ia harus lebih
mengontrol kata dan candanya. Alih-alih sok akrab, bisa kena gencet dan
tendangan api gara-gara salah ucap.
Di ruas kursi lain, ternyata tempat
duduk Aryo juga sudah terisi seorang pemuda, seorang kisanak. Kesan pertaman
kayak orang ngedrug, sakau, ngudut, ngepul-ngepul asapnya. Aryo pun curiga, jangan-jangan
pemuda itu merebut kursinya, tapi ternyata tidak, di sebelahnya. Yang terpilih
menjadi teman seperjalanannya.
Tiba-tiba, pemuda itu menyapa
duluan. Menanyakan tujuan dan asal pada Aryo. Begitu tahu bahwa Aryo berasal
dari jogja asli, pemuda itu pun mencoba melancarkan praktek conversations boso
jowo yang telah ia pelajari secara otodidak selama 5 bulan Ia menduduki
Ngayogyakarta Hadiningrat. Iya, 5 bulan, rupa rupanya Pria yang biasa disapa Eliod oleh teman temannya dan juga punya panggilan sayang Hendi dari Papi
Maminya ini merupakan mahasiswa semester
1 di sebuah Universitas yang cukup terkenal di Yogyakarta. Ia mengambil jurusan Sosiologi.
Teman seperbangkuan Aryo ini,
dengan bahasa jawa ngoko dengan aksen Cirebon yang kental sedikit demi sedikit
mencurahkan apa yang ada di benaknya. Ia sempat bercerita mengapa ia memilih
kuliah di jogja, untuk pendewasaan katanya. Ada sebuah bagian dari dirinya yang
Ia ceritakan pada Aryo, yang membuat Aryo sedikit menyesal. Rupanya dibalik
penampilannya yang sempat ditangkap secara negatif oleh aryo, rupanya Eliod merupakan pria yang
cukup bertanggung jawab. Selama 5 bulan berkuliah di jogja, ia melakoni
kehidupan perkuliahannya sambil bekerja
di sebuah kafe, demi mengurangi beban orang tuanya untuk masalah pembiayaan dan
kebutuhan sehari harinya. Luar biasa! Kita? Dan satu lagi, cita citanya? Guru.
***
45 menit sebelumnya
Arda
sudah menunggu di tepian rel, di stasiun Lempuyang mania. Ia pilih jadwal
kepulangannya ke Solo tepat sama dengan jadwal kepergian Aryo dan Ical. Agar
bisa saling berpamitan, mungkin itulah sebabnya. Sementara Ical sudah datang
dahulu, muncul Eria dan Rina dari balik kerumunan orang. Mereka ingin mengantar
kepergian tiga jejaka tadi. Mereka berdua terus saja tersenyum, tertawa, dan
membekali doa-doa yang agak aneh seperti: Hati-hati
di sana ya, biar tidak diterkam harimau!.
Kereta sudah
siap, maka berangkatlah Aryo dan Ical membawa misi yang insya Allah berniat
baik. Membuka lahan pengabdian baru di tanah yang belum pernah mereka injak
sebelumnya, di tanah timah.
***
Kembali ke 10 menit
sebelumnya. Alurnya bikin pusing.
Setelah
terkirim, berturut-turut sms tadi berbalas. Macam-macam kata-katanya, tata
kalimatnya, tapi yang jelas ditangkap Ical adalah iringan doa dan harapan. Terimakasih
teman. :)
Berkait, InsyaAllah.
Akbar Suryo Sadarpo feat Rizal A. Prakosa
Dibolak-balik boleh
Di
tanah timah, Bangka
cerita ini juga bisa dibaca di: