Selasa, 31 Oktober 2017

Asal Usul Makaroni

Kata kawan saya Muammar, "makaroni" itu nama aslinya adalah "roni" saja. Pada masa itu orang ditanya, makan apa? Makan "roni" jawabnya. Namun karena idghom bilagunah akhirnya menjadi makaroni. Kasian.

Sabtu, 19 Desember 2015

Kroncong Indonesiawi



Indonesiawi,

Menurut wikipedia Kroncong adalah "an Indonesian musical style that typically makes use of the kroncong (the sound chrong-chrong-chrong comes from this instrument, so the music is called keronchong) bla bla bla dan seterusnya.

Meskipun akarnya adalah musik dari barat, rupanya instrumen ukulele yang dipakai di Kroncong berbeda dengan ukulele yang menginternasional. Di Kroncong nama instrumen ukulelenya adalah cak dan cuk. Cak 4 senar string yang suaranya cring-cring-cring, kalau cuk 3 senar nylon yang bunyinya tululung-tululung. Selain itu, Bass Selo (Cello) selain mengisi nada rendah juga menghasilkan suara ritmis macam kendang. Pada versi yang lebih lengkap Kroncong juga dimainkan dengan instrumen musik lainnya seperti flute dan biola.

Melihat keasikan musik yang dihasilkan pada harmoni Kroncong, nampaknya tinggal menunggu waktu saja sampai Kroncong berhasil merebut kembali telinga khalayak galau Indonesia lalu menduduki singgasana tangga lagu Indonesia terbaik-terbaik.

Oiya, video ini Indonesia sekali ya, rakyat yang selo, maestro musik yang macak layaknya pengamen jalanan, Pak Polisi yang nyantai bersama rakyat, dan itu bapak di belakang happy sekali.

Jayalah musik Indonesia.

Mohon maaf untuk kesoktauan saya. Kalau ada fakta yang tidak tepat berarti itu tidak benar. Thanks and regards.

"mrene sek.."


Sabtu, 31 Oktober 2015

Cheap Camera, Pro Life Lessons

Jadi, di Youtube ada acara yang namanya "Pro Photographer, Cheap Camera Challenge" di Channel DigitalRev TV.

Di acara ini para fotografer profesional kelas dunia diundang oleh Kai W, sang empunya channel, untuk menjalani tantangan berburu foto. Tantangan berburu foto bagi fotografer profesional kelas dunia tentu saja bukan hal yang spesial. Tapi acara ini spesial, karena para fotografer tersebut tidak akan berburu momen dengan perlengkapan andalan mereka, tapi dengan Cheap Camera. Cheap Camera yang dimaksud adalah kamera mainan (kamera lego, kamera toystory, kamera barbie), kamera di jam tangan anak, kamera pocket dengan merk yang belum pernah terdengar sebelumnya, kamera handphone zaman pendahulu, dan sekawanannya. Tentu saja mereka geli ketika menerima peralatan tempur ini. Tapi justru disinilah hebatnya acara ini dan juga hebatnya para fotografer profesional. Alih-alih mundur dan menyumpah serapahi keadaan, mereka malah segera berfokus pada tantangan, menyesuaikan diri dengan kamera, lalu mencari obyek-obyek fotografi yang menarik dengan penuh semangat.

Tidak seperti DSLR yang konon dapat meningkatkan kegantengan baik fotografer atau obyeknya sebesar 23%, kamera-kamera murah yang digunakan sering nampak jauh dari kesan profesional atau meyakinkan. Tapi orang-orang ini tetap saja berburu dan mengarahkan gaya obyek-obyeknya dengan penuh percaya diri, layaknya profesional, memang profesional.

Di bagian akhir dari tayangan ini ditampilkan hasil-hasil fotografi yang barang tentu diatas rata-rata.


---
Mencoba memaknai pesan dari acara tersebut, beberapa kutipan dibawah bisa mewakili:

"The best camera is the one you have with you."
-Chase Jarvis

"The master has failed more times than the beginner has even tried."
-Stephen McCranie

"Sudahlah, jangan kebanyakan fafifu."
-Akbar Suryo Sadarpo




-


Minggu, 22 Maret 2015

Nato Phonetic Error



Disebuah SMP di beberapa tahun yang lalu, sesudah sebuah ulangan harian akan diadakan koreksi bersama. Ulangannya dalam bentuk pilihan ganda. Kertas jawaban ulangan diacak di dalam kelas, dipastikan tidak ada yang mengoreksi miliknya sendiri. Ibu guru akan membacakan kunci jawaban, apakah A, B, C, atau D. Setelah itu para murid akan memberi tanda silang pada nomor dengan jawaban yang salah dan di akhir sesi akan menuliskan poin benar pada lembar jawab.

Awalnya semua berjalan lancar, sampai ditengah proses koreksi para murid kesulitan membedakan suara "B" dan "D" karena terdengar mirip. Para murid pun selalu bertanya "B atau D bu?" 
Hal ini terjadi berulang-ulang hingga akhirnya sang guru punya ide untuk membedakan huruf "B" dan "D". "Untuk D saya akan bilang 'Delta' ya" begitu ucap sang Ibu Guru. Para murid lalu menyahut balik, "yang B apa bu?".

"Beta"

-------------
Lalu pada hari itu semua berjalan baik, kecuali sebuah pertanyaan yang kembali menyeruak ditengah para siswa,

"Bu maaf, nomor 21 beta apa delta ya bu?"


sumber gambar: http://pukeroom31-2012.wikispaces.com/file/view/Nato%20Phonetic%20alphabet.png/354325936/800x487/Nato%20Phonetic%20alphabet.png

Kamis, 01 Januari 2015

Lagu Kebangsaan Romantisme Jogja

Seperti kita tahu, Kla Project sukses membuat karyanya yang berjudul “Yogyakarta” menjadi lagu kebangsaan romantisme Jogja. Tentu saja Jogja sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia tidak berhenti di satu lagu saja. Menurut saya ada dua beberapa lagu baru lain yang juga sukses menggambarkan romantisnya Jogja.

1. Bike Freedom - Erwe ft.M2MX &Heruwa

2.  Kapan ke Jogja Lagi - The Everyday Band

  
---------------------------
7 Oktober 2015
Update Bro,

3. Ngayogyakarta - Genk Kobra
"Gadjah Mada, IAIN Kalijaga, UII
panggonane wong pinter sing pada setudistasiun tugu, lempuyangan, nggon kreta apinumpak sepur saka kana tekan ngendi-endi"

4. Di Sayidan - Shaggy Dog
"Bila kau datang dari selatan langsung saja menuju Gondomanan, belok kanan sebelum perempatan, teman-teman riang menunggu di Sayidan"

5. Jogja Istimewa - Jogja Hip Hop Foundation
"Rungokna iki gatra saka ngayogyakarta
Nagari paling penak rasane koyo swarga
Ora peduli donya dadi neraka
Neng kene tansah edi peni lan merdika"


--------------------------

Ketika saya sedang di Jogja, sering ditanya “Kapan pulang ke Jakarta?”.  Itu pertanyaan yang salah. Bagi saya, pulang itu ke Jogja, ke Jakarta itu namanya berangkat.

Sabtu, 13 Desember 2014

Ultimate Virtual Happiness

Ada dua alasan yang membuat saya melangkahkan kaki ke Margo City, di sore di akhir pekan ini. Yang pertama untuk menunaikan kewajiban saya kepada badan ini untuk bergerak karena sejak pagi hanya bermalas-malasan saja. Bergerak terbatas di dalam radius 5 meter di dalam rumah, sayang kalau tubuh nan gagah ini karatan gara-gara minim digerakkan. Alasan yang kedua adalah untuk mencari album Paramore yang Riot! Iya, sejak kemarin saya tersengat aksi panggungnya mbak Hayley Williams dan kawan-kawan, gara-gara bergerilya di youtube dan tanpa sengaja menemukan video-video live performance dari Paramore. Daku terkesima lalu jatuh cinta. Sebagai bagian dari masyarakat yang menghargai kekayaan intelektual berangkatlah saya untuk mencari album original di toko CD terdekat.

Singkat cerita saya telah mendarat dengan selamat di Margo City diantar Bapak Masinis serta rombongan keluarga besar commuter sampai di Chinese Hut Station (Stasiun Pondok Cina) dilanjutakan jalan kaki 10 menit. Begitu melangkah masuk ke dalam mal berkuncup putih ini nampak orang-orang berkumpul di sekitar panggung kecil yang sudah berdiri di tengah ruangan. Ternyata ada penyanyi kaliber nasional sedang manggung disana, siapa dia? Dia adalah Rossa. Beruntungnya saya, tepat ketika masuk ke dalam mal ini mbak Rossa baru mulai menyanyi diatas panggung. Dengan iringan band yang kompak, sound system yang menghenyak, dan vokal mbak Rossa sendiri yang berkualitas tinggi sukses menghibur penonton gratisan yang hadir sore itu.

Disela-sela mbak Rossa dan band yang beraksi ciamik ada hal yang mengusik fikir saya. Banyak diantara penonton yang sibuk merekam sang diva bernyanyi dengan HP ketimbang menikmati langsung. Bagi saya pribadi, live performance macam ini merupakan ultimate entertainment. Dimana segala bakat, kecerdasan, kreativitas dan usaha manusia ditumpahkan untuk menjadi suatu hasil karya yang harmonis lagi indah. Sayang sekali jika datang di acara seperti ini kita malah disibukkan untuk merekam atau terus-terusan mengambil foto daripada menikmati hiburan kualitas premium. Sesudah merekam lalu apa? Ditonton di rumah? Cuma jadi hiburan kelas dua guys, tidak ubahnya video-video amatir di youtube, kualitas gambar seadanya, kualitas suara apalagi. Tidak akan lebih hebat dari live performance itu sendiri. Sayang sekali.
Kasus yang lain sering terjadi ketika kita melihat foto-foto tempat yang indah, reaksi kita, ”bagus banget, pengen kesana!”. Tetapi sampai disana, kita sibuk foto-foto sampai lupa ultimate goal kita, yaitu untuk menikmati pemandangan dan suasana tempat itu sendiri, sayang sekali.
Saya jadi teringat, percakapan di film Secret Life of Walter Mitty, ketika itu setelah perjalanan yang sangat panjang Walter Mitty akhirnya bertemu dengan sang fotografer, Sean O’Connel, di Gunung Himalaya. Sean sedang memburu foto Snow Leopard yang dikenal sebagai Ghost Cat karena sifat hewan tersebut yang jarang ditemukan. Akhirnya sang Ghost Cat muncul, Sean O’Connel siap dengan kameranya, namun tak kunjung menekan shutternya, lalu terjadilah percakapan,

Walter Mitty: When are you going to take it?

Sean O'Connell: Sometimes I don't. If I like a moment, for me, personally, I don't like to have the distraction of the camera. I just want to stay in it.

Walter Mitty: Stay in it?

Sean O'Connell: Yeah. Right there. Right here.

Sean O’Connel tidak jadi mengambil gambar dari buruannya itu.

Ini, mungkin tentang pilihan pribadi, tentang selera, bagaimana kita menikmati suatu pertunjukkan, bagaimana kita menjadi bagian dari pertunjukkan.  Saya pun orang yang percaya tidak ada yang salah dengan selera. Ya, menjadi manusia di Era Selfie memang tidak mudah, selalu ada dorongan untuk mengabadikan apa-apa yang terjadi, mengunggahnya di internet, lalu menikmati apresiasi dari khalayak maya. Mengabadikan momen pun bukan hal yang salah menurut saya. Hanya saja jangan sampai kita menukar momen-momen berharga yang nyata dengan kenikmatan virtual yang hampa.

Video-video amatir di youtube memang menjadi bagian dari mencari tahu lebih lanjut ketika saya mulai suka dengan Paramore, tetapi ketika Grup Musik ini tampil live di depan saya, tentu saya sudah tahu apa yang akan saya lakukan, dan itu bukan merekam dengan kamera HP.

Selamat menikmati hidup.


 sumber gambar:  https://popspoken.files.wordpress.com/2011/08/p8210624.jpg